Baru-baru ini, Marwan si anak kos sering melihat beberapa tayangan televisi yang menurutnya sangat tidak etis untuk di tayangkan, mulai dari jeruk makan jeruk hingga durian makan kedondong. Ya begitu lah gambarannya. Ia menonton dari pagi hingga sorepun, tayangan yang keluar adalah perihal hal yang sama. Ketika mulai bosan, bocah dengan tampang pas-pasan dan doyan urakan ini selalu mencari kesendirian untuk menenangkan dirinya, karena jika tidak semua barang kos bisa di lumatnya menjadi serpihan tak terpakai lagi dan dijual ke bulakkapal.com
Pernah suatu ketika ia sedang mencari tempat makan didekat
kosnya, tentu saja ia mencari makanan kesukaannya, mie goreng yang cara
penyajiannya di rebus. Ketika asyik makan ternyata Marwan melihat sosok teman
lamanya yang hampir 3 tahun tak bertemu. Dengan mulut yang masih penuh dengan
mie, ia mencoba memanggil.
“S*&rw%£%ni, S*&rw%£%ni.” Marwan Mencoba memanggil
temannya.
Sarwani (nama teman marwan) mulai memalingkan wajahnya
kearah sumber suara, dan dengan kaget ia langsung menemui Marwan.
“Assalamualaikum akhi” Salam Sarwani.
“Waalaikumussalam, wih sekarang mah manggilnya akhi yah”
Marwan menggoda.
“Iya akh, sekarang sudah saatnya kita berbenah diri, sudah
saatnya kita harus menjadi pilar penentu. Bahkan aku saja sekarang sudah mau
fokus kepada akhirat” sambung Sarwani menambahkan.
“Sepertinya selama 3 tahun ini perjalanan hidupmu keren
sampe jadi kaya gini. hehehehe” Marwan memuji
Bla…bla… bla..
Perbincangan berlangsung lama dan
mereka sedikit bernostalgia. Hingga tak sadarkan bahwa tempat makan sudah mau
tutup. Mereka akhirnya pulang dengan tidak lupa saling mencatat nomor handphone
jika suatu waktu ingin bertemu kembali. Dan keduanya berpisah dengan
meninggalkan piring mie bekas makan Marwan.
Hari-hari berganti, tetapi tayangan di TV tidak pernah
berganti. Masih saja ada yang jeruk makan jeruk dan durian makan kedondong. Marwan
yang berprofesi sebagai penikmat visual merasa begitu resah, kemudian ia
mengingat tentang sarwani yang ia temui beberapa hari yang lalu.
Dicarinya kontak sarwani di handphone lamanya. Kemudian
memencet tombol “Call”
Tut… tut… tutt…..
“Assalamualaikum Akhi” Suara salam dari sarwani
“Waalaikumussalam kawan, ada yang ingin aku tanyakan nih”
Marwan Penasaran.
“Ya, silahkan Akh” Sarwani memperbolehkan.
“Jadi gini, Aku sekarang ini kadang menjadi orang yang
begitu resah dengan polemik yang ada di negara ini, mulai dari kecaman-kecaman
agama, hingga saling menuduh satu sama lain.. dan ada satu hal lagi yang aku
ingin tanyakan, dari banyaknya kecaman itu anak kecil sudah tidak canggung lagi
dengan perkataan kafir kawan” Marwan menceritakan dengan detail.
“Sebenarnya begitu banyak fitnah di negeri ini karena adanya
orang yang sudah berulah dan orang yang lain tidak terima akh, aku pernah
membaca tentang keagamaan yaitu bahwa agama itu penuh dengan kedamaian, bukan
kebencian. Dan disini yang aku bingung juga.. mengapa sekarang orang sibuk
mencari kesalahan dan sibuk mengecam?? padahal seharusnya kita saling bertoleransi
dengan sesama. jika menurut pedoman salah, sebutlah salah dan jangan pernah
menjadikan cerita nyata menjadi dongeng yang dibuat agar menjadi berkesan dan
menegangkan” Sarwani Menambahkan.
“Jika anak sekarang sudah tidak canggung lagi berkata kafir,
itu adalah sebuah pembiasaan atas dirinya. Anak kecil itu sifatnya meniru, jika
yang ditirunya itu baik maka akan baik, jika yang ditirunya buruk, maka akan
buruk pula. Tetapi untuk konteks kafir sendiri, aku terkadang masih sering
menemukan kesalahkaprahan orang-orang atas kafir tersebut, seperti jika tidak
sedekah, kafir, jika tidak sholat tepat waktu, kafir dan kesalahkaprahan yang
lainnya padahal yang kita sudah tau sama-sama bahwa kafir itu adalah sebutan
untuk orang yang tidak beragama islam dan juga kita sudah tahu bersama bahwa arti kafir itu adalah
menutupi.. hmmmm” Sarwani Bergumam panjang.
“Kenapa kawan? ” Marwan agak penasaran
“Tidak apa-apa, Mari kita cerita-cerita saja mengenai kegiatan
kita selama 3 tahun ini..” Sarwani melanjutkan.
“iya aku…… tut tut tut tut”
Sambungan terputus, padahal marwan masih ingin bercerita dan
berkangen ria dengan temannya itu. Ia memulai kembali menelpon Sarwani. Telepon
mulai tersambung tetapi disana hanya ada suara perempuan yang berbicara.
“Sisa Pulsa anda tidak cukup untuk melakukan panggilan ini.
cobalah beberapa saat lagi”

0 komentar: